Celoteh Untuk Bintang Biru ku

Just another WordPress.com weblog

Belajar dari Mereka Yang (dianggap) Belum Tahu Apa-apa

leave a comment »

Saya kembali ke sini karena suatu keharusan tugas. Tapi saya senang, ada satu hal yang akhirnya memotivasi saya untuk kembali menulis. Saya kembali dengan status baru sebagai anak SMA. Terlalu banyak hal yang cukup menyibukkan saya semenjak saya duduk di bangku SMA. Berat, tapi cukup indah. Saya kembali bukan untuk menceritakan masa SMA saya. Terlalu rumit untuk diceritakan, maka saya akan langsung mengerjakan tugas ini.

Beberapa bulan lalu saya membaca tweet seseorang yang saya lupa siapa, membicarakan tentang perbedaan antara orang dewasa dan anak-anak. Cukup menarik ketika membacanya. Seperti suatu perbandingan yang lucu, tetapi masuk akal.
Orang dewasa, yang dengan kecerdasannya dan kelihaiannya menyusun kata-kata sering berkicau tentang kehidupan. Bahkan berteori tentang kehidupan.

Saya pikir, mereka terlalu lama sekolah. Bukan bermaksud buruk, tapi buku-buku tebal yang mengaung teori-teori ilmiah sedikit membutakan mereka. Hal ini benar-benar membuat mereka terbuai dalam teori. Padahal kebanyakan dari mereka tidak dapat memaknai teori yang mereka ungkapkan.

Ketika orang dewasa berbicara mimpi. Mereka berkoar “Jangan takut untuk bermimpi!”

Tidakkah mereka sadar ketika mereka takut untuk bermimpi?

Saya tidak ingin berkata tentang mereka terlebih dahulu. Saya ingin membandingkan dengan diri saya sendiri. Ketika saya masih duduk dibangku Taman Kanak-kanak, saya banyak mendengar cita-cita besar teman-teman saya. Dan saya baru menyadarinya sekarang.

Anak kecil yang dianggap belum tahu banyak itu, bisa dengan percaya diri berteriak “Aku mau jadi presiden!” Anak lain lagi berteriak “Aku mau jadi Superman!” Dan banyak cita-cita besar lain yang ada dibenak mereka.

Anak kecil bermain lego dipagi hari. Mereka menyusunnya dan menamakannya gedung. Mereka berkhayal, bermimpi. Mereka berani bermimpi walaupun terlihat fana.

Saya. Bella kecil mempunyai beragam cita-cita. Harus saya akui itu semua berubah 180 derajat sekarang. Memang banyak cita-cita yang saya impikan dan targetkan sekarang. Tidak kalah besar. Tapi semuanya penuh dengan analisa dan kalkulasi. Bahkan terkadang, hanya untuk menuliskan cita-cita pada lembaran biodata pun saya harus berfikir panjang.

Mereka. Mereka yang pernah gagal, banyak yang takut untuk bermimpi kembali. Untuk bangun dari kegagalan pun susah. There’s a saying goes “Failure is the best way to learn.” Again, adults make up a theory.

Is it enough to rise up from a failure just by learning without doing something to ‘fix’ that failure? For example. I’m trying to figure out why I failed my mid term. Sampai sini saja dan saya tidak mengikuti remedial. So is it enough? Kan tidak.

Lupakan. Dari kegagalan itu biasanya kita terlalu banyak belajar dari kesalahan kita dan akhirnya takut untuk memberanikan diri mengambil resiko dikemudian hari.

Anak kecil. Hari ini berlari dan misalnya ia jatuh. Anak kecil yang sehat dan aktif, akan berlari lagi keesokan harinya.

Mereka tidak takut jatuh dan mereka tidak berfikir untuk jatuh. Maka mereka tidak lagi terjatuh. Karena mereka tidak dihantui oleh ketakutan unutuk terjatuh kembali.

Guru ngaji saya meengajarkan kepada saya untuk yakin terhadap apa yang saya lakukan. Dengan tegasnya ia mengatakan,

“Jika kamu berkata bisa, maka kamu bisa. Jangan berkata tidak bisa, maka kamu akan tidak bisa. Tuhan itu seperti apa yang kamu harapkan.”

Kalimat ini benar-benar tertanam dibenak saya. Tidak ada salahnya jika anda mencoba untuk menghayati dan meyakini kalimat ini.

Sama halnya dengan orang dewasa yang berteori tentang kebahagiaan dalam memaknai hidup. Mereka yang berteori, terkadang lupa dengan apa yang mereka teorikan. Saya tidak bisa memastikan mereka tidak bisa menerapkan teorinya, karena sometimes they do.

Sebagai contoh. Orang dewasa bangun tidur, menonton berita. Akhir-akhir ini berita memang dipenuhi dengan berita-berita busuk dari politik dalam negeri. Siapa yang tidak geram ketika melihat banyaknya koruptor yang bebas berkelana menghisap uang rakyat? Orang-orang dewasa tidak segan untuk marah ataupun memaki dipagi hari. Bukan orang yang mereka maki, melainkan televisi. Betapa lucunya. Lelahnya memulai hari dengan amarah. Apalagi dimalam hari juga menonton berita, melihat kasus-kasus busuk lain yang berbeda. Kemudian memaki lagi. Dan ia tertidur dalam makian.

Anak kecil. Mereka menonton kartun sambil minum susu. Tertawa riang mengikuti alur cerita kartun yang lucu dan menertawakan tingkah-polah tokoh-tokoh kartun yang lucu. Mereka memulai hari dengan kebahagiaan dan mengakhiri hari dengan kehangatan susu.

Tanpa berteori, indahnya hidup mereka yang pada dasarnya sudah indah. Tidak perlu banyak berfikir, semua serba ada, bermain sepanjang hari, makan, dan tidur.

Orang dewasa yang pada hakikatnya hidupnya sudah rumit, rajin sekali menambah beban untuk dirinya sendiri dan membuat hidup mereka semakin susah.

Tanpa berteori, mereka bahagia. Mereka tahu arti bahagia, tanpa mereka sadari.

Tanpa sok tahu, anak kecil terkadang lebih tahu dari orang dewasa.

Tanpa sok pintar, terkadang mereka bisa lebih pintar dari orang dewasa.

Alangkah lucunya dunia ini.

Maaf, jika saya sok tahu. Saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya dari apa yang saya lihat. Sebagaimana saya membuat teori, maka berarti saya sudah mulai menginjak dewasa. Hehe.

Sampai disini tugas ini saya akhiri.

Terima kasih

Najma Nabila Savitri, XI IPS 4

“You can learn many things from children. How much patience you have, for instance.” –Franklin P. Jones

Written by Nabila Fz

October 10, 2011 at 2:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.