Indecisiveness is not a Good Thing at All..
Kalau ada yang mengatakan bahwa anak kecil jangan terlalu dipaksakan untuk menguasai terlalu banyak bahasa karena akan menyebabkan anak itu akan bingung untuk menentukannya. Misalnya, pada saat ia ingin mengucapkan “makan”. Ia akan bingung memilih antara makan, eat, mangan, atau bahasa lain yang mungkin ia ketahui juga.
Tidak jauh beda dengan seseorang yang mempunyai pemikiran yang bercabang yang disebabkan oleh terlalu banyak mendengar pendapat orang lain yang berbeda-beda. Saya mengalaminya. Contohnya seperti tentang pendapat mengenai asuransi-asuransi yang berhubungan dengan kehidupan seseorang. Seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi rumah, tabungan hari tua dan lain-lain.
Guru ngaji saya berpendapat bahwa seseorang tidak perlu mempunyai asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan lain sebagainya. Kata beliau “ngapain harus ikut arusansi ini asuransi itu? Itu kan urusan Allah. Kalau ikut begitu-begitu namanya kita punya rencana sakit dong. Kalau tabungan hari tua berarti kita berfikir bahwa masa tua kita, setelah kita sudah nggak bisa kerja lagi, kita akan hidup susah hanya menyusahkan anak saja. Pasti semuanya sudah diatur jalannya”. Saya memang sering berbeda pendapat dengannya. Di luar pembahasan tafsir al-quran. Tapi ya, dalam hal ini ada benarnya juga.
Di lain pihak. Seseorang mempunyai asuransi jiwa, asuransi rumah, asuransi kesehatan, dan jaimanan-jaminan yang semacamnya. Alasannya karena untuk jaga-jaga saja. Bukan berarti kita punya rencana sakit, rumah kebakaran, atau rumah kemalingan. Ini juga benar. Siapa sih yang mau sakit? Siapa sih yang mau rumahnya kebakaran? Siapa sh yang mau rumahnya kemalingan? Kan tidak ada. Tapi kemungkinan-kemungkinan buruk seperti itu bisa saja terjadi. Ya memang harus pasrah kepada Tuhan. Tapi sebagai manusia kita juga harus berusaha. Bukan sepenuhnya pasrah sapai seperti tidak perduli.
Dari dua pendapat berbeda tadi ini yang kadang membuat saya bingung. Walaupun saya masih SMP dan belum pernah mengurus untuk asuransi-asuransi seperti itu. paling tidak, saya suka terima telfon dari asuransi-asuransi seperti itu yang selalu mencari orang tua saya. Sudah tidak dihiraukan, masih sering menelfon.
Pikiran bercabang seperti ini terkadang membuat saya bingung. Satu waktu saya menempatkan diri saya di satu pilihan. Tetapi, kalau benar-benar dipikirkan bisa saja pendapat lain lebih benar. Hal-hal seperti ini yang saya pikir membuat orang terkadang malas untuk berpendapat. Apalagi kalau ada orang lain yang merasa lebih tahu, padahal hanya sok tahu.
Lain lagi ceritanya kalau dalam diskusi kelompok di sekolah. Di sekolah, kegiatan berdiskusi paling sering dilakukan dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan. Menurt saya yang lebih seru Bahasa Indonesia. Karena membahasnya cerpen, bukan teori-teori pelajaran di dalam buku paket. Pasal, undang-undang, UUD, dan lain-lain.
satu waktu, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Kusrini (guru bahasa Indonesia) menyruh kami sekelas untuk membuat kelompok. Stelah itu, kami diperintahkan untuk membaca cerpen yang sama. Dari cerita pendek itu, kami harus bisa menjawab salah satu pertanyaan yang diberikan. Satu kelompok, satu soal, sesuai dengan nomor kelompoknya.
Setelah semuanya selesai mendiskusikan dan menjawab pertanyaan bersama kelompoknya, mulailah babak diskusi. Setiap kelompok maju kedepan secara berurutan. Dari jawabn yang mereka kemukakan didepan kelas, kelompok lainnya boleh bertanya, menyangkal, atau memberikan asumsi lain. Menit-menit awal “babak” diskusi berjalan “adem-ayem”. Belum banyak yang berkomentar.
Salah satu teman saya di kelas, dari awal memang sudah menunjukkan “gairah”-nya untuk berkomentar, menyangkal, dan lain sebagainya. Sebutlah dia dengan nama Setya. Awalnya, terkesan cerdas dan aktif. Dan karena dia banyak memebri sangkalan, peserta diskusi lain juga ingin menyangkal apa yang telah disangkalnya. Makin lama makin panas. Peserta diskusi yang lainnya merasa bahwa Setya sedikit too much dalam mengajukan pendapat dan sangkalan maupun sanggahan. Hal ini membuat kurangnya keseimbangan berpendapat diantara peserta. Beberapa menjadi panas dan agresif, tetapi yang lainnya malah agak bungkam. Ya mungkin karena mereka mals jika suasana semakin panas atau mungkin karena mereka bingung harus menyanggah atau berpendapat yang mana karena terlalu banyak pendapat yang “ada benarnya juga”.
Sampai hari kedua diskusi pun, Setya masih tetap saja berlebihan. Dampaknya ke kelompoknya sendiri jadinya. Giliran kelompoknya maju ke depan kelas dan memberikan jawaban dari pertanyaan, banyak sekali yang menyanggah (hahahaha). Dan sepertinya dia harus berjuang keras untung menjawab pertanyaan atau sanggahan dari peserta diskusi dari kelompok lain.
Di sini lah saya mulai berfikir. Apa ini ya, yang terkadang membuat suasana diskusi tidak seimbang? Beberapa orang terlalu vokal (biasanya minoritas), dan di sisi “mayoritas” malas untuk berpendapat. Tapi saya punya pikiran lain lagi. Kalau diskusi tidak “panas” kan jadinya tidak seru? Haduh.. terjebak dalam dua pikiran lagi nih. Argh! Indecisiveness isn’t a good thing at all!
Yasudah, daripada saya semakin bingung, saya sudahi saja lah. kalau teman-teman blogger ingin memberikan pendapat atau menyanggah silahkan komentar saja di kolom komentar. Saya akan sangat-senang-sekali kalau bisa bertukar pikiran. Bercabang lagi ngga kenapa kok.. he he.
Wassalam