Celoteh Untuk Bintang Biru ku

Just another WordPress.com weblog

Menonton Tragedi

leave a comment »

Sebelumnya, saya tak sedikitpun terfikir untuk menulis tentang ini. Tetapi setelah membaca sebuah artikel dari salah satu jurnalis yang sekarang sudah menjadi presenter di sebuah stasiun televisi. Bukan menjiplak lho, hanya terinspirasi.

Luapan lumpur Sisoarjo adalah bencana yang sangat besar di Sidoarjo terjadi beberapa tahun lalu dan masih fenomenal hinggi kini. Sampai saat ini masih banyak korban terdampak lumpur Sidoarjo yang masih merasa belum diberi ganti rugi walaupun di pihak yang menurut para korban harus memberi ganti rugi menyatakan bahwa sebagian besar ganti rugi sudah dilunasi. Hanya sekedar mengingatkan. Sebetulnya, ini bukan pembicaraan yang saya tujukan.

Masih ingatkah anda betapa fenomenalnya, betapa membludaknya pemberitaan tentang adanya luapan lumpur ini beberapa tahun silam. Dan pastinya kita semua dapat membayangkan bagaimana kerasnya jeritan mereka para korban terdampak lumpur Sidoarjo ini. bantuan terlihat banyak berdatangan pada saat itu. Terkesan semuanya prihatin akan bencana ini. kagiatan amal dimana-mana. Penggalangan dana juga dimana-mana. Mungkin bantuan ini bisa dibilang sekedar emosional belaka. Tak lagi banyak yang peduli akan kehidupan paska bencana. Malah yang ada adalah kenikmatan dari orang luar untuk menyaksikan fenomena alam ini. Mereka sebut ini dengan nama “Wisata Lumpur”. Perlu diingat, ini sebuah bencana besar. Terdengar jeritan dan tangisan yang sangat kencang dari dalam hati mereka para korban terdampak lumpur Sidoarjo ini.

Adalagi bencana alam yang seharusnya dibantu, bukan ditonton. Musibah Situ Gintung. Air bah memakan habis rumah-rumah disekitarnya yang notabene ditinggali oleh “orang kecil” walapun banyak juga yang tergolong “orang mampu”. Bagi mereka yang punya uang, mungkin bisa mengungsi di hotel. Tapi bagaimana dengan orang-orang kecil tadi. Mau kemana? Mau tidak mau mereka tinggal di tenda pengungsian tanpa mengetahui kehidupan mereka setelahnya. Anak-anak kecil di sana memang tersenyum. Tapi adakah yang mengetahui betapa hancurnya hati mereka, betapa besar rasa trauma mereka. Sangatlah miris.

Sepekan setelah bencana ini, sikap emosional dari orang luar sedikit berkurang. Pada perjalanan dari sekolah pulang ke rumah, saya kebetulan yang setiap pulang sekolah menaiki angkutan umum ini bertemu dengan seorang ibu-ibu paruh baya. Saya mengambil kesimpulan dari pembicaraan ibu-ibu itu dengan temannya mungkin bahwa mereka akan bertemu di area Situ Gintung. Selama percakapan via telfon dengan temannya itu ia terlihat sangat ceria. Kalau seperti yang saya dengar, temannya sudah sampai duluan di tempat mereka janjian tadi. Ibu-ibu ini bertanya kepada supir angkot “Bang, kalau ke situ gintung turun di mana ya?”. supir angkot menjawabnya kalau untuk ke sana bisa turun depan pombensin dan naik ojek dengan bayaran sekitar 5000 rupiah. Bukan berburuk sangka, tetapi menurut pengamatan saya, ibu-ibu ini sepertinya akan melakukan “Wisata Nonton Situ Gintung”. Tidak munafik, saya heran melihat ini semua. Lagi-lagi bencana mengundang ketertarikan halayak ramai untung berbondong-bondong melakukan wisata, bukan memberikan sumbangsih bagi mereka yang tertimap musibah.

Tak hanya para “wisatawan” yang saya anggap aneh. Bertepatan dengan masa kampanye pemilu legislatif periode 2009-2014 ini, para calon wakil rakyat juga ikut memberikan “sumbangan” untuk para korban bencana alam ini. Anehnya, bantuan ini tidak lepas dari emebel-embel kegiatan kampanye mereka. Disetiap tenda ada nama mereka berikut dengannama partai, nomor urut partai, dan tidak lupa nomor urut mereka dikartu pemilihan. Mungkin untuk ditenda wajarlah. Di kotak nasi kotakan saja tercantum nama mereka berikut dengan identitas mereka dikartu pemilihan seperti yang saya sebut diatas tadi. Wowww… semua terasa fana di sini, komersial. Bukan berarti menanggapi buruk kesediaan mereka membantu para korban bencana Situ Gintung ini.

Di dunia jurnalistik, berita-berita serupa kerap menajdi pengisi halamn utama. Semua tayangan berita disetiap stasiun televisi berlomba-lomba memberikan berita yang sangat aktual. Membuat breaking news setiap satu jam sekali dengan berita yang sama. Mengumpulkan fakta sebanyak-banyaknya. Dapat dipastikan, rating-nya melambung tinggi. Tingginya rating disini sangat menggambarkan sangatlah banyak orang yang masih concern dengan apa yang terjadi.

Setelah saya mencerna, ada 2 pertanyaan yang timbul dibenak saya :

  1. Apa gerangan yang dirasakan atau dipikirkan manusia, ketika Tuhan menyuratkan tragedi kepada manusia lain?
  2. Mengapa musibah-musibah besar dan fenomenal menjadi begitu menarik dan menggelitik untuk ditonton?

Advertisement

Written by Nabila Fz

December 21, 2009 at 9:04 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.