Friday Photoworks
Photo… photo… saya sebetulnya ingin membuat ini terdengar seperti seorang anak kecil yang memanggil temannya untuk bermain bersama di sore hari. Tapi karena ini sebuah tulisan, ya kayaknya tidak bisa diperdengarkan. Saya pikir para pembaca mengerti apa yang saya maksud di atas. Okelah, jangan terlalu banyak basa-basi. Sekarang saya akan memulai pembicaraan yang sebenarnya.
Photography.. Sebuah hobi yang sedang saya geluti sekarang ini bermula dari pernikahan sepupu saya. Bukan saya memang yang menjadi fotografer di acara itu. Tapi waktu itu saya ingin membuat dokumentasi pribadi karena menurut saya itu sebuah moment yang baik juga untuk diabadikan. Acara tersebut benar-benar membuat saya “berteman baik” dengan camera.
Pose yang tak direncanakan sebelumnya, waktu yang dipakai ya sekepinginnya, objek yang sedanya, dan jika memakai objek manusia ya yang kepingin difoto saja. Yang penting saat mengerjakan fun dan hasilnya bagus. Prinsip ini yang saya pegang dalam urusan photography. Memang kacau dan berantakan. Dan sepertinya tidak baik untuk ditiru. Tapi menurut saya, photography (yang dalam hal ini sebagai sebuah hobi belaka) adalah seni. Seni itu hiburan, bukan sesuatu yang mengikuti banyak aturan yang membosankan. Jadi ya untuk melakoninya kembali kepada si pelakon. Tidak harus membaca rumus dan tidak harus buka tanggalan dulu.
Seperti hari ini. Saya libur, orang tua saya libur. Kita menghabiskan hari libur ini di rumah. Bukan suatu hal yang membosankan bagi kami untuk menghabiskan waktu libur di rumah. House sucha heaven bagi kami. Semuanya indah di sini (jika tidak ada satu orang yang mengganggu alias meri-meri alias marah-marah).
Televisi sudah menemani sejak kami bangun tidur. Kasian kayaknya kalau harus dipaksa menamani kami seharian tanpa henti. Oke, saya dan bapak –yang notabene sama-sama menggemari photography- berinisiatif untuk membuat photoworks iseng-isengan. Ini tercetus karena kami melihat cahaya matahari yang bagus dari pintu menuju balkon. Cahaya ini menginspirasi kami untuk melakukan photoworks.
SET PERTAMA
Set pertama adalah pintu yang menuju balkon tadi itu. Untuk foto memang cahayanya bagus. Tapi kayaknya untuk manusia kurang bagus alias panas sekali. Kalau terlalu lama mungkin bisa membuat kulit saya belang-belang menjadi hitam dan sangat hitam. Kebetulan di dekat situ ada hiasan dinding berupa topeng. Yasudahlah, dijadikan hiasan saja. Untuk memperindah kalau bisa. Kalau tidak bisa ya, lain lagi ceritanya. Di sini saya yang pertama menjadi objek foto. Malu! Karena saya tidak suka difoto. Di sini semua foto seolah-olah seperti candid. Padahal ya tidak. Pakai gaya juga, walaupun norak. Kalau mau dibuat berkonsep, seperti seseorang yang sedang berbicara kepada topeng. Reflection, seperti cerminan diri (saya sih tidak rela kalau saya suruh bercermin dan pantulannya seperti topeng. Sejelek-jeleknya saya kayaknya tidak seburuk rupa topeng. He he.)
SET KEDUA
Teras depan rumah kami jadikan sebagai set kedua. Sebetulnya saya tidak mau karena malu jika dilihat tetangga. Tapi kalau bagus kenapa tidak (Hasilnya? Bagus itu relatif lah, jelek baru mutlak). Posenya, saya duduk di lantai teras dan bersandar di jendela. Kalau mau dikonsepkan lagi, mungkin seperti “Toto-Chan”. Gadis cilik (red: besar) di jendela. Jendela bukan menjadi objek foto. Tetap saya yang menjadi objek-nya. Jadi, jendela tidak ter-’jepret’ utuh sebagai jendela di sini. di set kedua ini, tidak terlalu banyak fot yang diambil. karena, kembali kepersoalan pertama: Malu!
SET KETIGA
Set ketiga yang kami pilih adalah kamar tamu. Terdengan sedikit aneh memang. Tapi karena sedang bermain dengan cahaya dan cahaya yang dipantulkan jendela kamar tamu bagus, ya tidak ada salahnya lah. Siapa juga yang berani menyalahkan? Sepengetahuan saya tidak ada undang-undang yang mengaturnya. Kurang tahu juga kalau sekarang sudah ada undang-undang yang berlaku untuk hali ini. kalau sampai ada gila juga kayaknya. Stop! Stop talkin about politic.
Kalau bertanaya-tanya kenapa jendela lagi, jawabannya adalah karena dari jendelalah cahay dapat masuk dan menyinari sebuah ruangan. Hasil foto-foto di sini tidak usah dipertanyakan lagi lah bagaimana hasilnya. Sudah pasti…. Bagus relatif, jelek itu mutlak. Okedeh, lumayan saja. Kalau mau bilang bagus saya tidak berani, ditakutkan ada yang marah.
Sedikit selingan ditengah-tengah kegiatan foto saya dan bapak. Menonton video konser Jason Mraz dan segelas es teh sebagai penyegar diantara kegerahan selama kegiatan foto berlangsung. Seperti biasa, setiap menonton video konser Jason Mraz bapak saya selalu membawa gitar string-nya. Sedikit menggaggu pendengaran kalau memainkannya dengan salah-salah. Tapi hal ini membuat saya ingin melanjutkan kegiatan foto kami. Dan ini set keempat…
SET KEEMPAT
Ruang depan, dekat piano, dan lagi-lagi bersandar di jendela. Pancaran cahaya ditempat itu kebetulan bagus. Selama motret bapak, saya sedikit merasa seperti sedang membuat cover album atau motret untuk majalah musik karena gayanya yang duduk bersandar bermain gitar (Sedikit dangdutan kayaknya). Tapi sepertinya bapak saya tidak sekeren itu untuk dijadikan cover album atau foto majalah. Setelah dapat beberapa ‘jepretan’, set keempat ini disudahi sajalah. Set ini menjadi penutup dari photoworks kita di hari libur yang santai ini.
Mungkin tulisan saya hari ini adalah satu dari sekian banyak gambaran kegiatan seru di hari libur ini. Saya akan sangat senang sekali jika ada yang mau membagi cerita tentang liburan ‘long-weekend’ para pemabaca sekalian..
With love,
Najma Nabila Savitri



