Anak Asuhan Rembulan
Yapp… sebuah kalimat pendek dengan 3 kata yang menggambarkan saya disaat weekend dan disaat saya merasakan susahnya memejamkan mata walaupun hanya untuk satu gelap malam. Kalimat “anak asuhan rembulan” ini adalah kalimat yang saya dapatkan dari ucapan bapak. Dan kalimat ini tak pernah lepas dari benak karena mungkin salah satu individu di kalimat itu adalah diri saya sendiri.
Saya pastikan, ini bukan penyakit insomnia, tapi mungkin ini adalah penyakit lumrah manusia. Yaitu sangat susah sekali untuk menahan godaan walaupun godaan itu tak lebih besar dari biji zarah. Sinar terang dari screen laptop yang membuat imajinasi saya terus mengalir, internet connection : online, blackberry yang terus menggoda ku untuk meng-updates status di twitter, dan lain sebagainya. Sebetulnya, kantuk itu sudah datang bertamu kepada saya. Tetapi godaan – godaan tadi membuat saya memaksakan untuk terus membuka mata selebar mungkin. Mungkin kantuk itu tak tahan menunggu lama untuk dibukakan pintu dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi menjauh dari dua mata bulat ini.
Saya memiliki aktivitas malam yang bisa dibilang sedikit berbeda dari orang kebanyakan. Tak pernah menginjakan kaki di lantai dansa, tak pernah berpacaran ria dengan motor besar atau mobil sport berkeliling kota di malam hari, tak pernah menonton film bioskop ‘midnight show’ bersama teman – teman sebaya. Yang pasti tak sedikit pun aktivitas malam ala anak “gaul” saya geluti. Aktivitas malamku hanyalah menjajaki laptop sepanjang malam hingga adzan shubuh itu tiba. Jikalau tak ada ketukan pintu tanda peringatan tidur dari ibu.
Kalau orang lain, khususnya anak SMP sekarang sering dengan bangga mengaku – ngaku insomnia karena tidak bisa tidur padahal jam masih menunjukkan pukul 23.30, menurut saya itu sangatlah aneh dan tidak masuk akal. Pikirkan saja…. Jam 23.30 masih terlalu sore untuk banyak orang. Masih banyak orang yang bekerja disaat itu. Jalan – jalan protokol masih sangatlah ramai. Belum terhenti bunyi klakson mobil, bunyi mesin mobil yang sedang digas untuk melaju, dan terangnya sinar lampu kendaraan bermotor. Belum berhenti aktivitas sehari – hari beberapa orang. So, itu belum terlalu malam untuk bisa membuat kita merasa bahwa jika diwaktu itu kita belum bisa tidur, berarti kita adalah satu dari sekian banyak penderita insomnia di muka bumi ini.
Menurut saya itu hal yang aneh dan sedikit ‘di atas normal’. Para penderita insomnia yang sesungguhnya, sangat merasakan betapa tidak enaknya mengidap penyakit yang sebetulnya sangat mengganggu jam istirahat manusia. Penyakit itu bukan lah penyakit yang keren. Tak ada satupun penyakit yang keren walaupun semahal apapun biaya dan selangka apapun penyakitnya. Pada akhirnya penyakit tetaplah penyakit. Kembali ke dalam artian yang sesungguhnya yaitu, suatu hal yang mengganggu kehidupan setiap manusia. Saya memang bukanlah seorang dokter atau pakar tentang penyakit seperti ini. Tapi saya percaya, setiap orang yang masih berfikir ‘normal’ akan berpendapat sama dengan saya.
Okkay.. ini sekian dari saya. Secarik pemikiran saya tentang insomnia dan “insomnia”
Wassalam…
yai bels!
insomnia berguna untuk gw.
begitu insomnia gw disembuhkan.
gw g bisa lagi eksis belajar sampai pagi.
ahasil, gw menghentikan terapi insomnia..
dan here it comes! i’m absolutlely love it!
denta
December 5, 2009 at 6:47 am
oke deh! anak kedokteran belajar terus ya. he he.
Insomnia agak nggak berguna bagi gue. dalam keadaan nggak bisa tidur, mau nonton tv atau baca atau ngapain, tiba-tiba ada yang nyuruh tidur. besoknya di-komplen. wachawww!
nabilafz
February 1, 2010 at 3:31 pm