Konvergensi Tiga Layar
Akhir – akhir ini banyak sekali masyarakat yang menjadi “korban terdampak” konvergensi tiga layar. 3 kata dalam satu kalimat yang menggambarkan fenomena betapa ketergantungannya dan kecanduannya masyarakat untuk menatap layar terang ini secara terus – menerus.

- online news merupakan salah satu bentuk nyata dari kehidupan “konvergensi tiga layar”
Fenomena kolaborasi dari berbagai macam teknologi ini, kerap dikenal di dunia industri dengan termin ”konvergensi tiga layar”: layar TV, layar telepon genggam dan layar komputer. Dengan konvergensi ini pula lah, berbagai macam konten dapat didistribusikan melalui berbagai macam cara dalam waktu yang seketika.
Fenomena ini pula lah yang melahirkan terjadinya komunitas-komunitas di dunia maya yang melampaui segala macam batasan, seperti batas geografis dunia, demografi, psikografi dan lain lain. Sebagai salah satu contoh adalah situs jaringan sosial atau ’social networking’ Facebook yang mempunyai pengunjung harian sebanyak 132 juta orang per hari, jumlah yang dua kali lebih besar dari penduduk Inggris pada saat ini.
Saya percaya, dalam satu dekade ke depan, dengan majunya infrastruktur ’backbone’ telekomunikasi, akan lebih dari 100 juta penduduk yang dapat mengakses dunia maya, di mana tentunya terdapat informasi yang luar biasa jumlahnya.
Kalau 3 layar ini dikupas secara satu – persatu, mungkin begini ceritanya..
Pertama, dari sisi “layar” televisi
Mungkin pada umumnya kehidupan dan keseharian masyarakat sangat dekat dengan televisi. Hampir setiap waktu luang diisi dengan mencari informasi atau hiburan dari televisi. Kalau melihat dampak positif dari televisi sangatlah banyak. Mulai dari info – info keseharian, info – info dalam negeri dan mancanegara, dan juga ilmu – ilmu pengetahuan. Bukan hanya sisi positive di sini yang sekarang sangat bisa terbaca oleh kita. Sekarang ini tak heran jika banyak sekali orang yang dapat digolongkan sebagai “korban terdampak” oleh media televisi. Sering lupa waktu merupakan dampak yang paling buruk dari dekatnya kita dengan televisi. Terkadang intensitas bertemu dengan orang tua dan keluarga bisa lebih minim jika dibandingkan dengan intensitas bertemu dengan layar televisi.
Kedua, dilihat dari sisi “layar” telefon genggam
Hampir setiap lapisan masyarakat telah menggunakan dan menikmati fasilitas yang dimiliki oleh telefon genggam. Dari golongan “atas” sampai golongan “orang kecil”, rata – rata sudah menggunakan telefon genggam. Sekarang ini keberadaan telefon genggam atau handphone tidak lah lagi dianggap sesuatu yang mewah. Mungkin yang bisa dilihat sedikit ‘keren’ adalah jenisnya.
Sangat terlihat di industri telepon genggam, selama teknologi disajikan dengan kriteria: sederhana, harga terjangkau dan bernuansa lokal, pengguna dapat menerima dengan baik. Bahkan, saya pun berandai-andai bahwa teknologi telepati pun, apabila sudah ada dan memenuhi kriteria kriteria tadi, dapat pula disajikan, dan pasti diterima dengan baik oleh masyarakat.
Ada pula telefon genggam golongan smart phone yang sedang menjamur dikehidupan masyarakat. Sebut sajalah blackberry. Smart phone ini memang lagi ‘booming’ sekarang ini. kemudahan untuk berkomunikasi lebih intensif memang benar – benar bisa dinikmati setiap penggunanya. Tapi kembali lagi, ini bisa membuat orang menjadi “korban terdampak” lagi. Mungkin awalnya memang berniat untuk menunjang hubungan kerja dan lain sebagainya. Tetapi pada akhirnya banyak fitur – fitur lain yang bisa membuat seseorang menjadi ‘kecanduan’ untuk terus memencet tombol – tombolnya dan terus memutar – mutar trackballnya.
Ketiga, dari sisi Internet (“layar” komputer atau laptop)
Kehidupan masyarakat akhir – akhir ini memang benar – benar tidak lepas dari yang namanya internet. Sebut sajalah bermain facebook, twitter, atau menonton video – video dari youtube. Seperti halnya seorang perokok yang tak bisa lepas dari rokoknya, penikmat internet pun sudah banyak yang bisa dibilang tidak bisa jauh dari kehidupan ‘depan layar’ tersebut.
Sebagai contoh dalam kehidupan anak muda atau khususnya kalangan pelajar. Kalau ini mungkin saya bahas menurut ‘kaca mata’ saya. Sebagai pelajar SMP yang kesehariannya hanya dipenuhi dengan hal – hal yang itu – itu saja (sekolah dan les), terkadang membuat saya merasa bosan dan jenuh akan kesearian yang tak pernah berubah hingga beberapa tahun kedepan. Sekarang sudah tahun ke-sembelian saya menjalani hari – hari seperti ini. Sebagai hiburan ya pilihannya hanya sedikit. Kalau tidak mencari hiburan – hiburan kecil di rumah, memuaskan diri dengan hobby, jalan – jalan bersama teman, atau bermain internet. Nah, yang paling sering dan mudah untuk dilakukan adalah bermain internet. Terkesan hanya sesuatu yang tidak penting dan membuang waktu. Tapi berpengaruh besar bagi saya untuk mencari informasi harian dari media – media online, ilmu pengetahuan (sengaja atau tidak sengaja), dan menghilangkan rasa jenuh yang tak pernah henti – hentinya meracuni hari – hari yang terus begini.
Jikalau dilihat dari sisi ini, memanglah internet sangat menghibur. Tapi jika kita lihat dari sisi lain, seperti sudut pandang para profesional sibuk mungkin lain lagi ceritanya….
Ini mungkin sangat berkaitan dengan yang kedua (telefon genggam). Sekarang banyak sekali orang yang sangat membutuhkan handphone yang bisa digunakan untuk mengakses internet juga. Mungkin yang paling efektif untuk itu ya smart phone. Sebutlah blackberry, iPhone, ataupun smartphone yang lain. Ketergantungan yang paling terasa adalah di sisi intensitas dan kemudahan membuka atau mengirim e-mail dan berinteraksi dengan orang sekitar. Tanpa disadari, ini adalah satu bentuk akan kecanduan seseorang terhadap dunia yang tak mempunyai sekat untuk ruang dan waktu. Tetapi dengan alat – alat seperti ini terkadang mereka merasa di push untuk berkaja tanpa batasan ruang dan waktu juga.
Mungkin ini segelintir pemikiran saya dan banyaknya celotehan akan konvergensi tiga layar.
Wassalam